Senin, 15 Agustus 2011

Bahasa Daerah,, Bagaimana nasibmu ??


Beberapa hari lalu, ketika saya sedang shalat tarawih di masjid, ada ibu-ibu yang mengajak saya berbicara. Ibu tersebut menggunakan bahasa jawa. Krama inggil atau halus. Entahlah. Dan saya hanya tersenyum mengangguk. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut saya karena saya tidak tahu maksud dari kata-kata itu. Sedangkan saya hanya bisa bahasa jawa ngoko, ngokonya aja kasar. Buseett dahh..


Sesampainya di rumah, saya menceritakan kejadian itu kepada ibu saya. Tau gak apa tanggapannya ibu?? Yap.. beliau tersenyum sinis dan bilang….

“orang jawa kok gak ngerti bahasa jawa! Blablabla”

Setelah mendapat omelan dari A sampai Z, akhirnya saya sadar betapa tidak pedulinya saya dengan bahasa daerah. Kita juga bisa melihat banyak pemuda yang tidak perduli dengan kondisi keterpurukan yang melanda bangsa ini. Mayoritas anak-anak muda jaman sekarang lebih bangga berbicara bahasa inggris daripada bahasa daerah. Lebih keren, lebih gaul. Sayapun juga merasa seperti itu, yaa wajar saja kan anak muda ^^

Kembali ke topic >>> mereka semakin tidak peduli dengan bahasa daerah mereka. Mereka merasa kalau memakai bahasa daerah itu mungkin kesannya ‘katrok’, apalagi bahasa jawa yang mungkin kesannya ‘ndeso’. Selama ini aku juga beranggapan seperti itu (gak munafik kok ^^ )

Yaa kita memang tidak bisa ‘menganak emaskan’ bahasa inggris biar kita kelihatan gaul, keren, dan yang sesukunya lah. 
Bukankah bahasa jawa atau pada umumnya bahasa daerah itu keanekaragaman Negara kita, Indonesia?
Bukankah keanekaragaman tersebut menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kaya akan warna-warni masyarakat yang ada maupun SDAnya? 
Bukankah bahasa daerah harus kita lestarikan? 
Namun apa jadinya jika bangsa Indonesia tidak dapat menjaga dan menghargai kebudayaan?

Well, aku tahu mengapa semua ingin belajar bahasa asing terlebih bahasa inggris. Yapp, karena bahasa inggris adalah bahasa internasional. Tidak ada masalah dan tidak perlu dipemasalahkan jika kita ingin belajar bahasa inggris. Toh, MENPORA menghimbau agar Pemuda Indonesia Harus Kuasai Tiga Bahasa. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan bahasa daerah. 
Lalu kenapa para pemuda banyak yang tidak mengerti bahasa daerah?? Atau mungkin banyak dari mereka yang tidak ingin menggunakan bahasa daerah ??

MALU.. 
yaa menurut saya itu adalah alasan yang paling tepat. Jika kita malu, itu berarti kita juga malu menjadi warga Negara Indonesia. Jika kita malu menjadi warga Negara Indonesia, lalu bagaimanakah nasib bangsa Indonesia di masa mendatang???
Bukankah kita harus mengisi kemerdekaan Indonesia?? 
Yang perlu direnungkan untuk kemerekaan kali ini yaitu kalau para pemuda-pemudinya seperti ini (termasuk yang nulis), bagaimana nasib bahasa daerah kita??

Suatu saat jika “masyarakat-masyarakat zaman dahulu” telah habis, penggunaan bahasa daerah tidak akan pernah terdengar lagi. Kalau sudah begitu, Negara kita, Indonesia bukanlah lagi menjadi Negara yang kaya akan bahasa daerahnya. Kelak yang ada hanyalah bangsa Indonesia yang memiliki satu bahasa. Betapa kecewanya nenek moyang kita.


15.08.11 – 08.50 pm

2 komentar:

Arsifa mengatakan...

sip,,, aku jadi malu suka make bahasa korea kalo pas lagi ngomong,, sumonggo kulo kaliyan panjenengan latian ngginakaken basa jawi ing kelas.. *latian, tapi belibet ngetiknya*

Deby Kurnia Dewi mengatakan...

hahaha sing nulis mawon nggih isin marang awakedewe.. nggih monggo dicobi.. :))
bahasanya mawut -____-

Posting Komentar